Thursday, August 11, 2011

Mini Workshop FFC 2011




Perkembangan teknologi digital selama dua dekade belakangan ini turut membawa serta revolusi dalam dunia fotografi. Saat ini hampir setiap orang memiliki akses ke kamera, sesederhana apapun bentuknya, sehingga fotografi bukan menjadi ajang elit para fotografer. Untuk itu diperlukan suatu nilai tambah bagi pegiat fotografi agar tetap menjadi yang terdepan dalam bidang ini.
Berawal dari pemikiran tersebut, salah satu anggota Fisip Fotografi Club yang juga fotografer National Geographic Traveler Indonesia yaitu Hafidz Novalsyah menelurkan suatu ide tentang Workshop Visual Storytelling lewat media foto. Hafidz lantas mengajak Arum Tresnaningtyas, anggota FFC bekas fotografer Harian Kompas yang sekarang menekuni jalur freelance, serta Andika Betha anggota FFC yang merupakan fotografer Kantor Berita Antara untuk mewujudkan gagasannya itu.
Workshop diawali dengan seleksi terhadap ranggota FFC, dikhususkan dari 3 angkatan termuda melalui submisi portfolio, dimana terpilih 11 orang peserta. Kemudian selama  6 hari dari tanggal 20 sampai 25 Juni 2011, 3 (tiga) sampai 4 (empat) peserta dibimbing oleh satu mentor yang ada. Produk yang dihasilkan dikemas dalam satu bentuk slideshow multimedia, yang ditampilkan dalam satu acara presentasi di Kedai Kopi Nusantara Solo pada 26 Juni 2011. (Dian Dwi Saputra – Ketua FFC). 

Dan inilah hasilnya, selamat menikmati.


Mini Workshop FFC 2011 – Tutor: Andika Betha Adhikrisna

    


   Mini Workshop FFC 2011 - Tutor: Hafidz Novalsyah


    Mini Workshop FFC 2011 - Tutor: Arum Tresnaningtyas Dayuputri

Thursday, July 14, 2011

Merekam dengan Pinhole Kamera

Pinhole camera adalah kamera yang digunakan manusia sebelum ditemukan kamera berlensa. Seiring perkembangan jaman, pinhole camera mengalami kemajuan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Di Indonesia, keberadaan pinhole camera kurang begitu didengar atau hanya dipelajari sebagai bentuk kamera pertama kali. Kenyaaan tersebut membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan tehnologi yang semakin berkembang. Sehingga pinhole camera kurang dikenal bahkan kurang diminati.

Seorang fotografer profesional dari Jakarta, Ray Bachtiar Drajat mempopulerkan pinhole camera melalui bukunya yang berjudul Memotret dengan nama Kamera Lubang Jarum ke berbagai daerah di Indonesia seperti Jakarta, Yogyakarta, Malang, Bali, Semarang, Surabaya, dll. dengan menyelenggarakan workshop-workshop. Buku tersebut bisa dikatakan buku fotografi kuno yang terbit di era digital.

Fisip Fotografi Club (FFC) UNS yang menyelenggarakan workshop dan pameran foto Kamera Lubang Jarum (KLJ) harus diberikan apresiasi yang tinggi. Ketajaman foto-foto KLJ yang dipamerkan memang tidak bisa dibandingkan dengan kamera berlensa tetapi gambar yang diperoleh sangat indah dan artistik bahkan banyak gambar fish eye sesuai rekomendasi buku KLJ. Yang luar biasa adalah keberanian untuk membidik manusia dan hunting ke luar atau yang jauh dari kamar gelap di patung Slamet Riyadi Gladag Solo .

Semoga fotografi pinhole camera atau KLJ dapat lebih dikenal di era digital ini dan dapat dikembangkan lebih luas.

(Teks: Muhammad Aslam - Komunitas KLJ Indonesia)

NB: Semua foto di-digitalisasi dengan teknik scan


Rosita Nur Anggraini - My Converse


Rosita Nur Anggraini - Blackberry vs Orange Juice


Prasetyowati - Mini Reog


Nizar Arsyadani - Tangga Kampus


Muharrik T. F. - PYLOX


Muhammad Saktiyono - Octopus Camera


Inggit Adab - Glasses


Dian Dwi Saputra - Slamet Riyadi


B'tara Lingga - Kantin FISIP


B'tara Lingga - Box


Ardiansyah Indra - Gedung 3


Angger Arya Pradana - Gedung FISIP




Monday, July 11, 2011

Mengapa Masih (menggunakan film) Hitam Putih? /// by: FFC

Di masa ketika olah digital menjadi jalan hidup, dan fotografi sudah tereduksi maknanya menjadi sekedar “grafi” (menggambar) tanpa “foto” (cahaya) saja, kok (masih pake film) hitam putih?

Ketika warna sudah menjadi elemen tak terpisahkan dari komposisi, ketika birunya langit sudah menjadi sangat mengikat foto-foto lansekap kita, kok (masih pake film) hitam putih?

Dari sejumlah referensi beragam jawaban, opini dan pendapat didapat. Sebagian di antaranya adalah:

1. More vintage more prestigious. Istilah fotografi dirumuskan oleh Sir John Herschel pertamakali di era hitam putih, sehingga sebagian orang menyebutnya vintage. Sebagian lain menyebutnya klasik, dan ada juga yang menyebutnya outdated. Sementara bagi sebagian orang, kuno itu aib, bagi kalangan tertentu kuno itu bergengsi. More vintage more prestigious.

2. Dramatization is black and white way. Fotografi hitam putih itu memiliki efek tersendiri. Ketidakhadiran warna menegaskan garis dan tekstur. Komposisi lebih jelas mempertegas pesan.

3. Fotografi hitam putih menunjukkan hasil cetakan yang lebih sophisticated. Gradasi dari zona hitam pekat ke putih terang berlangsung dalam proses yang kaya tone terutama untuk fibre-based paper.

4. Black and white is for expert and geeks only. Pemrosesan film hitam putih menjadi foto tercetak membutuhkan banyak parameter teknis. Ansel Adams bahkan membagi workflow nya ke dalam tiga bagian, yaitu The Camera, The Negative, dan The Print. Dan kita bisa mengatur hasil melalui masing-masing tahapan.

5. After you've mastered the basics, you may take this proficiency where you will, but it's a pre-requisite of making informed art. Fotografi hitam putih adalah dasar. Ibaratnya, sebelum membentuk sebuah lukisan mahakarya dengan kuas dan palet seorang pelukis dilazimkan untuk belajar menggambar memakai pensil dan kertas terlebih dahulu.

6. Because I like it. Pada dasarnya, banyak juga yang memiliki satu alasan simpel, karena murni karena kesukaan.

Pada akhirnya semua kembali ke pada personal masing-masing, mengenai alasan mengapa mereka memotret memakai film hitam putih. (Teks: Andika Betha)

NB: Semua foto di-digitalisasi dengan teknik scan















Brian Radiastra - Taman Sriwedari


















Nizar Arsyadani - Sudut Tamansari















Melisa Dwi A - Refleksi















Novandi K. Wardana - Permainan Bocah





















Rizky Amalia M - SRIATS















Rizky Utami - Becak JOGJA















Sonny Aldo - Tumpukan Kayu















V Putu Mario - Refleksi Gua















M. Haris Adhi - Shadow















Eva Patriana - Kumpulan Sepeda





















Bahtiar Anang - Kepala Budha









Ambar Kusumaningrum - Dilarang Masuk

Sunday, April 10, 2011

THE THREE STAGES: Tiga Tahap Penciptaan Fotografi /// by: Andika Betha Adhikrisna



"Taking photographs is a way of shouting, or freeing oneself, not of proving or asserting one's own originality. It is a way of life.

(Memotret adalah cara berteriak, atau membebaskan diri seseorang, bukan sarana pembuktian atau menegaskan orisinalitas seseorang. Ini adalah tentang jalan hidup.” - Henri Cartier Bresson

Kelompok karawitan dari ISI Solo unjuk kebolehan dalam Parade Kebyar Gong Se-Jawa di Institut Seni Indonesia, Solo, Jateng, Sabtu (10/1) malam. Acara tersebut mempertontonkan Gong Kebyar sebagai salah satu jenis seni karawitan Bali yang dimainkan secara atraktif oleh kelompok karawitan dari Jakarta, Jogja, dan Solo.FOTO ANTARA/Andika Betha

Bingung, seringkali kata ini yang terucap ketika seorang pemula pergi berburu foto. Pengetahuan dasar sudah ada, kamera sudah punya, namun tak satu pun foto yang dihasilkan. Mengapa? Salahnya di mana? Mengapa proses menciptakan foto begitu sulit, terkadang bahkan bagi seorang professional sekalipun?

Sekitar akhir Maret 2011 saya berbincang hingga pagi dengan seorang kawan di wedangan kawasan belakang kampus UNS. Kawan saya ini, Jauhari , juga seperti saya adalah pegiat fotografi. Yang membedakan hanyalah soal genre yang ditekuninya. Dia lebih ke seni dan komersial, sedangkan saya di jurnalistik.

Namun dari dua aliran yang bertolak belakang secara ideologis tersebut timbul sebuah dialog yang menarik tentang proses kreatif seorang fotografer. Dialog bermula dari teori dekonstruksi-nya Derrida, eksistensialisme-nya Heidegger hingga Kidungan Paminggir-nya ArswendoAtmowiloto. Tak jarang obrolan sedikit membelok ke intelejensia pada sebatang rokok hingga falsafah ketuhanan sebuah keris bagi orang Jawa. Yah, namanya juga obrolan ala wedangan, melantur kemana-mana. :)

Warga dan pedagang sapi beraktivitas di Pasar Sapi Singkil, Boyolali, Jateng, Rabu (10/11). Harga sapi asal lereng Merapi yang dijual di pasar ini mengalami penurunan antara 1-1,5 juta rupiah dikarenakan kualitas ternak menurun akibat pakan tercemar abu vulkanik dan sapi stres dalam situasi darurat bencana Merapi. FOTO ANTARA/Andika Betha/ss/ama/10

Dunia Dalam Kotak

Dari sekitar 5-6 gelas es teh bagi kami berdua, dan sebungkus rokok bagi saya, timbul sebuah kesepakatan tentang konsepsi penciptaan, bagi seni pada umumnya dan fotografi sebagai bagian dariseni. Kami bicara soal dunia dalam kotak.

"Bahwa sesungguhnya proses kreativitas seni itu pada prinsipnya dimulai dari keterpenjaraan manusia pada sebuah kotak yang dibungkus oleh kotak-kotak lebih besar terus hingga batas kemanusiaan seseorang. Di luar itu adalah ranah penciptaan yang menjadi domain Pencipta paling pencipta."

Dekonstruksi oleh Derrida mencoba memurnikan penanda pada posisi yang paling murni tanpa rujukan-rujukan apapun. Untuk dapat memahami kotak yang mengungkungnya seseorang harus membongkar semua pengetahuan dan mitos yang dimiliki sebelumnya tentang konsep sebuah ruangan dalam kotak. Dengan demikian, ia dapat mengetahui secara utuh tentang ruang dalam kotak yang ditempati.

Kemudian melalui eksistensialisme Heidegger seseorang berusaha untuk menjadi "ada", dan mengaplikasikannya ke dalam ruang dalam kotak. Dengan demikian ia akan mampu menghitung berapa upaya yang harus dilakukan untuk mencapai batas dari kotak (baca: batas kemanusiannya)

Lalu, bagaimana manusia menembus batas kotak yang mengungkungnya? Well, entah bagaimana, itu disinggung ketika dialog kami menyerempet ke ranah sastra. Arswendo Atmowiloto dalam novelnya Senopati Pamungkas entah sengaja atau tidak mengemukakan konsep penembus-batas kemanusiaan. Dalam karya itu dikemukakan tentang Kidungan Para Raja, di mana keberadaan raja adalah ranah eksklusif dari wahyu kedaton. Konsep ini lalu didobrak oleh munculnya Kidungan Paminggir, di mana manusia bisa menjadi siapa saja, termasuk raja sekalipun. Bahwa kemanusiaan itu akan berujung pada mahamanusia, konsep humanity without boundaries.

Dengan menjadi mahamanusia, seseorang akan menembus batas kotak yang mengungkungnya, keluar dari ruangan menuju ranah penciptaan. Namun, mahamanusia tetaplah bukan Maha Pencipta, sehingga begitu seseorang keluar dari kotak, ia akan segera menemukan berada dalam kotak yang lebih besar. Dan siklus pun akan terulang terus-menerus hingga mencapai perbatasan dengan ranah Maha Pencipta.

Tiga Tahap Penciptaan

TERJUN HARI TERAKHIR. Seorang penerjun menjelang mendarat di Lanud Adi Soemarmo, Boyolali, Jateng pada hari terakhir "13th Asiania Parachuting Championship & Indonesia International Open", Minggu (10/7). Tim China dan Kazakhstan berbagi tempat perolehan medali emas terbanyak dengan masing-masing 3 emas. FOTO ANTARA/Andika Betha

Menjelang dinihari, akhirnya forum wedangan itu membawa kami kembali menjejak bumi setelah berkelana dalam awan-awan pemikiran yang begitu absurd. Coba bayangkan, di mulai dengan Derrida, diakhiri dengan Arswendo. Absurd bukan?



Satu pertanyaan tercetus, bagaimana mengaplikasikannya dalam proses penciptaan fotografi. Well, kira-kira jawabannya seperti ini.

Pertama, seorang fotografer memulai proses kreatifnya dengan membongkar semua mitos yang dimiliki tentang obyek yang akan difoto. Dengan demikian ia akan mendapatkan pengetahuan menyeluruh tentang obyek melalui pengamatan tanpa prasangka. Intinya adalah, kosongkan diri dan selami obyek secara menyeluruh terlebih dahulu.

Kedua, ia menempatkan keberadaan dirinya sebagai fotografer, sosok yang akan mengabadikan obyek. Dengan pengetahuan yang didapat dari tahap pertama, fotografer akan mampu memutuskan dengan sudut dan teknik apa obyek itu akan difoto.

Ketiga, fotografer berusaha menembus semua batasan-batasan yang ada untuk mencapai kreativitas setinggi mungkin. Ia akan mencoba semua sudut dan teknik yang mungkin dan tidak mungkin. Maka si fotografer akan semakin besar kemungkinannya untuk mendapat foto yang fresh dan benar-benar inovatif.

Masih bingung? Baiklah, saya akan coba membuat step by step-nya.

  1. Lakukan riset dan pelajari obyek. Jangan datang memotret dengan prasangka tanpa riset, karena anda akan melewatkan banyak potensi sudut dan teknik bagus

  2. Tentukan teknik dan sudutnya.

  3. Cobalah semua kemungkinan. Dobrak semua dogma dan pakem.


Dari uraian yang njelimet tadi semoga rekan-rekan dapat memahami dan mengaplikasikannya. Selamat Mencoba! :D

BOYOLALI,9/11- TIDAK MENGUNGSI. Anak-anak terlihat di kawasan berbahaya Jrakah, Selo, Boyolali, Jateng, Selasa (9/11). Ratusan warga di Kecamatan Selo dalam radius 3-7 kilometer dari puncak Merapi menolak mengungsi meski abu vulkanik sangat berbahaya bagi kesehatan terutama anak-anak. FOTO ANTARA/Andika Betha

SOLO, 17/2 - KIRAB PINDAH KERATON. Ribuan masyarakat Solo menyaksikan Kirab Boyong Kedhaton 2010 di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jateng, Rabu (17/2). Kirab tersebut memperingati 265 tahun pindahnya Keraton Mataram Islam dari Kartasura ke Solo, yang dianggap sebagai hari lahirnya Kota Solo. FOTO ANTARA/Andika Betha



)* anggota FFC-UNS, yang senang mengembara dalam alam-alam khayal imajiner. Untuk portofolio bisa dilihat di www.antarafoto.com dan andikabetha.com

Monday, April 4, 2011

Sore // by FFC


Taufan Wijaya_Sore di Rumah Toba_Samosir (SumUt)

Herka Yanis_Pulang Kerja_Jakarta

Herka Yanis_Bermain Bola_Jakarta

Herka Yanis_Aksi Kamisan_Jakarta

Dian Dwi Saputra_Senja Di Solo_Solo


Agoes Rudianto_Pencari Ikan_Wadung Ceklik, Boyolali

Monday, March 7, 2011

Tahun Baru Imlek /// By FFC

Imlek merupakan ritual dari etnis peranakan yang diperingati hampir di seluruh penjuru tanah air, bahkan di dunia. Etnis China dipandang sebagai nenek moyang orang melayu yang dahulu datang dari dataran Yunan, China selatan telah beranak pinak dan berkembang mewarnai keindahan keberagaman bangsa kita dan bahkan menjadi etnis terbanyak di dunia yang populasinya hampir mencapai 7 miliar manusia dalam beberapa dekade ke depan.

Gemerlap pusat perbelanjaan modern dihiasi pernik merah, emas, dan kelinci.Semburat wajah-wajah oriental merapal harapan pasca dentum gong penanda Imlek, diperindah dengan merahnya nuansa klenteng berbaur dalam putih asap dupa.

Teks: Hafidz Novalsyah

Arum Tresnaningtyas_"Lampion Imlek"_Singkawang

Taufan Wijaya_ImlekFair_Medan


Hendra Krisdianto_"The Goddess of Mercy (Quan Yin)"_Yogyakarta


Hendra Krisdianto_"Sujud Syukur"_Yogyakarta

Hafidz Novalsyah_"The Jetlag Monk"_Petak Sembilan, Jakarta

Genadi Adha_Nyalakan Pelita Penerangmu_Petak Sembilan, Jakarta

Genadi Adha_"Antri Berdoa"_Petak Sembilan, Jakarta

D.Pandu Yoga Bangsawan_"Menyalakan Lilin Pengharapan"_Surakarta

Ari Purnomo_"Liong Imlek"_Surakarta

Herka Yanis Pangaribowo_"Di Sudut Klentheng"_Surakarta

Ari Purnomo_"Doa Imlek"_Surakarta

Friday, February 25, 2011

Danau yang Terancam Punah // Photo story by Angger Bondan

Tak hanya hewan yang bisa terancam punah, danau pun bisa terancam punah di Indonesia. Danau Limboto terletak di Gorontalo, Sulawesi Utara. Tiap tahun Danau Limboto mengalami pendangkalan dan penyusutan luas. Dahulu kedalaman danau mencapai delapan meter, kini kedalamannya berkurang drastis hanya mencapai tiga meter. Danau yang jernih kini menjadi keruh, ikan-ikan khas Gorontalo seperti ikan payangga, ikan mangga bai, ikan saribu, dan juga ikan kabos alias gabus kini sulit untuk ditemukan.

Para ahli memprediksi Danau Limboto hanya akan bertahan 10 tahun lagi. Sedimentasi, serangan gulma enceng gondok, dan makin luasnya areal permukiman di bantaran danau menjadi penyebab utama terancam punahnya Danau Limboto. Tanpa ada langkah konkret dari pemerintah dan masyarakat untuk melakukan penyelamatan, Danau Limboto hanya akan jadi kenangan.

Foto & Teks: Angger Bondan

Keramba

Ikan Nila

Enceng Gondok

Petani

Dermaga Dembe

Senja di Desa Hutadaa


Pulang dari Danau