Next
Previous

Thursday, July 16, 2009

0

Solo Batik Carnival 2009 /// by Yuniadhi Agung

Thursday, March 05, 2009

0

Waisak by Dwi Prasetya

Makna sesungguhnya Waisak yang dirayakan umat Budha, Menurut kitab suci Tripitaka bagian Jataka (Ji), hari Waisak adalah hari lahir, Penerangan Agung, dan wafatnya Sang Budha.
Umat Budha kemudian menyebutnya Hari Trisuci Waisak. Di hari Waisak, umat Buddha di seluruh dunia memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan sang Buddha Gautama lebih dari 2500 tahun lalu.Ketiga peristiwa itu adalah:
- pertama: Bodhisatva (Calon Buddha) yang dinamai Pangeran Sidharta Gotama dan dilahirkan di Taman Lumbini, Nepal, pada 623 SM.
- kedua: Pangeran Sidharta yang kemudian jadi pertapa di bawah pohon Bodhi Suci di Buddha-Gaya, India, dengan kekuatan sendiri mencapai penerangan Agung (mencapai Nibbana/nirwana) dan menjadi Buddha.
- ketiga: sesudah 45 tahun mengembara dan memberi pelayanan Dharma kepada umat manusia dan para dewa, Sang Buddha wafat pada usia 80 di Kusinara, India, dan mencapai Pari-Nibbana pada 543 SM.

foto dan teks oleh: Dwi Prasetya




Thursday, December 11, 2008

2

Belajar Motret Model by Taufan Yusuf Nugroho





Monday, November 24, 2008

2

Dunia Lomografi by Kesturi Haryunani Pendari



Thursday, November 20, 2008

1

Monggo Tindak Dhateng Peken (Mari Pergi ke Pasar) by FFC

Berikut adalah beberapa karya foto yang dipamerkan di Pameran Besar FFC 2008

Denyut nadi pasar tradisional...
Terus berjuang
menggerakkan roda ekonomi rakyat
Keringat tua muda kaya miskin
Berbagai status sosial bertemu dan bertransaksi
Membaur dengan segala aroma sembako, buah-buahan, daging, ikan, ayam, bumbu dapur,jajanan pasar, pakaian, jamu, kembang,
dan semua yang larut di dalamnya....
Seolah tak terpisahkan..

Tapi sekarang mereka mulai berpaling
terbawa arus moderinisasi dan hedonisme.
Bukankah pasar tradisional menyediakan berbagai macam barang, baru, segar, dan sensasi tawar-menawar???

Pak, Bu, Mas, Mbak, Pakdhe, Budhe, Bulik, Paklik,Simbah, Adik
”Monggo Tindak Dhateng Peken....”



















Tuesday, November 18, 2008

2

Secercah Harapan Anak Bantar Gebang /// Photo Story by Dwi Prasetya

Sengatan sinar matahari siang itu tidak menyurutkan hati Tomi, 11 tahun, seorang bocah pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang Bekasi, untuk terus melangkah mengarungi samudra kehidupan dengan penuh ketegaran hati.
Sejak umur 7 tahun Tomi dengan tegar melewati deretan truk yang membawa
6000 ton sampah dan bau yang menyengat seolah telah menyatu dengan nafasnya. Langkah Tomi mendaki bukit-bukit sampah seluas 108 hektar diiringi 200 pemulung lainnya yang juga menggantungkan penghidupannya dengan mengais sejumlah rupiah dari sampah.

Setiap hari Tomi harus beberapa kali memenuhi keranjangnya dengan sampah plastik, agar cukup banyak pula rupiah yang Dia dapatkan. Sesekali Tomi mengusap wajahnya dengan tangan yang kotor, sehingga tanpa sadar wajahnya pun ikut menjadi kotor, namun hal itu tak sedikitpun mengurangi semangatnya untuk terus bekerja.

Menjelang sore Tomi pulang ke rumah terpal yang masih satu lokasi dengan tempatnya bekerja dan melepas lelah di belakang rumah sembari terus memupuk semangatnya untuk menjadi seorang dokter. Langkah Tomi dirintis dengan saat ini masih menimba ilmu di SDN Sumur Batu II Kecamatan Bantar Gebang Bekasi kelas 5 dan sampai saat ini belum pernah tinggal kelas.

Beruntungnya Tomi diantara teman-temannya yang tidak bisa melanjutkan sekolah.

Keluarga Tomi merupakan keluarga sederhana, orang tua Tomi, Kasim dan Omi, kakak, Iwan dan seorang adik yang masih berumur kurang dari dua tahun, Aas merupakan semangat baginya untuk terus berusaha menggapai cita-cita di tengah himpitan ekonomi keluarga.

Secercah harapan Tomi Andrian Si Anak Pemulung Bantar Gebang untuk pemerintah Indonesia agar suatu saat nanti Dia dan teman-temannya dapat mengenyam kehidupan yang lebih layak sebagai penerus bangsa. (Dwi Prasetya)















Sunday, November 09, 2008

1

Pameran Besar FFC 2008, 9-14 November 2008